Madapolo, Desa Diufuk Selatan

Asing, janggal dan terdengar seperti salah satu merek perment mint, begitulah yang pertama kali kurasakan saat keluargaku menyebut Madapolo.
19 tahun lamanya tempat ini menjadi misteri bagiku then someday..ayah mengajakku pulang ke kampung halamannya dan tinggal selama beberapa tahun sebelum menempuh pendidikan kembali.

Desa Madapolo

Terletak nun di selatan pulau Ternate, Madapolo atau dalam bahasa Ternate berarti Kepala Buaya berada di pulau Bisa, ujung utara kepulauan Obi. Untuk mencapai Madapolo ditempuh setelah sekitar 15 jam perjalanan laut dari pelabuhan Bastiong, Ternate. Rata- rata kapal akan berangkat dari jam 9 malam dan sampai sekitar jam 12 siang atau lebih. (peta dalam google maps)
Suhu udara disini jauh lebih panas dari Ternate mengingat letak geografis yang mendekati garis khatulistiwa

Madapolo yang masuk dalam kecamatan Obi Utara, kabupaten Halmahera Selatan dan provinsi Maluku Utara, terdiri dari 3 desa yaitu desa Madapolo meliputi bagian Madapolo bagian pantai, sebagian dari Sebelah Air dan sebagian dari Telaga sampai daerah Lapanawa, desa Madapolo Barat meliputi daerah bagian barat Madapolo yaitu Batu, Tanjung, dan sebagian daerah Sebelah Air  dan desa Madapolo Timur meliputi daerah Telaga. Terdapat 2 SD, 1 SMP, 1 MTs, 2 MA beserta Puskesmas rawat inap.
Listrik hanya berjalan pada maghrib hingga pagi hari jam 6. Aktivitas mulai meningkat saat kapal menaikan atau menurunkan penumpang pada pukul 08.00 sampai jam 13.00 di pelabuhan yang juga berdekatan dengan pasar. Pelabuhan besar bertaraf internasional juga sedang dalam proses pembangunan di pulau ini.

Kantor Desa Madapolo

Puskesmas Madapolo

 Salah satu jalan utama

Desa Madapolo Timur

Penduduk desa Madapolo berasal dari suku Buton, atas izin Pemerintah Belanda yang saat itu masih menjajah Indonesia mereka hijrah dan menetap pertama kali di desa Laiwui kecamatan Obi Tengah dengan nama kampung Buton dan mulai membuka daerah baru di bagian utara yang sekarang disebut dengan desa Madapolo.

Madapolo memiliki penduduk paling banyak daripada pulau lainnya dengan mayoritas (hampir 100%) muslim dengan komoditas utama cengkeh, pala dan hasil laut. Sayangnya padatnya penduduk tidak sebanding dengan infrastuktur yang ada misalnya jalan yang belum diaspal  dan sinyal telepon baik dari Telkomsel ataupun Indosat yang sering menghilang. Terkadang penduduk harus pergi ke titik daerah tertentu jika ingin mendapatkan sinyal telepon yang kuat.

Kawasan pelabuhan yang penuh jemuran cengkeh saat musim panen

Sekalipun hanya desa kecil, anak- anak di desa ini banyak yang menempuh kuliah di Ternate hingga sampai ke Jawa karena Obi direncanakan akan dikembangkan menjadi otonomi baru sehingga akan membutuhkan banyak pegawai negeri.

note 1 Maret 2017. Sekarang pulau kami memiliki pelabuhan utama yang terletak di Jujame. Pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan bertaraf internasional dan segala aktivitas akan dipusatkan disana. Untuk menuju Madapolo dibutuhkan perjalanan darat sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor.

Pemandangan dari pelabuhan

Advertisements

3 thoughts on “Madapolo, Desa Diufuk Selatan

  1. Pingback: Kawasi – Obi Selatan | AnGeL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s